Enigma Tiga Anomali, Karena Persahabatan Adalah Pengecualian dalam Sebuah Perbedaan

“...Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
(Q.S. Ar-Rum/30:21)
PROLOG
Hasan hanya bisa melihatnya terpukau memainkan dengan terampil alat kesukaannya di hadapan khalayak ramai. Dia sangat pandai, lincah, dan terlihat menyukainya. Dia berharap cucunya inilah yang akan melanjutkan kedudukannya saat ini.
Setelah selesai dengan permainannya, cucu kecilnya itu datang berlari menghampirinya. Dia terlihat sangat senang dengan penampilannya. Memuaskan baginya.
“Kakek!! Bagaimana penampilanku?” Tanya cucunya dengan penuh kebahagiaan. “Apakah ada yang salah?” Tambah cucunya lagi. Hasan tersenyum menatap mata indah cucunya itu, sambil tertawa sedikit, Hasan mencium kening cucunya lalu berlutut untuk memulai pembicaraan.
            “Ah tentu tidak, nak. Kau sangat terampil memainkannya. Tidak sia-sia kakek mengajarmu sejak lama.” Senyum cucunya belumlah pudar. Hasan yakin dengan cucu satu-satunya ini. ia membelai pelan merapikan rambut cucunya yang sudah berantakan saat berlari tadi.
            “Ahsan, apakah kau menyukai pertunjukanmu sendiri?” Tanya Kakek berusia lanjut itu.
            Cucu yang dipanggil Ahsan itu mengangguk mantap. Jelas dia sangat menyukai penampilannya tadi.” Aku sangat senang kakek. Kau tahu itu, kan?” Jawab cucunya dengan ceria. Sangat jelas diraut muka cucunya, Hasan dapat melihat aura itu, aura yang selalu diinginkannya itu. Dia berhara hal itu tidak akan pernah pudar dari cucu kesayangannya itu.
            Sejenak ia memeluk erat cucunya, lalu berdiri untuk berlalu meninggalkan cucunya.
            “Teruslah berlatih.” Katanya singkat. Aku Mencintaimu, nak.[]

Komentar

Postingan Populer