Mawar Layu

courtesy by tanamancantik.com
Anak-anak kecil itu sangat riang mengelilingi taman kota. Sejuknya udara yang tak begitu terik terhiasi capung-capung berlarian tak beraturan di udara. Tak jarang salah satunya menjadi incaran anak yang antusias akan wujud serangga ini. Beberapa ada capung yang menepi sejenak sekadar istirahat di pucuk bunga mawar merah. Begitu girangnya saat diantara mereka dapat menangkap seekor capung. Terus berlari hingga meninggalkan orang tua mereka yang menganggur melepas penat. Beberapa kakek kelelahan mengikuti langkah cucu mereka yang begitu imutnya. Banyak pasangan remaja yang mengelus tengkuk kekasihnya, tak sadar begitu eloknya telinga bermawar kekasihnya. Taman kala itu berhias bulat mentari bak anggur kuning matang. Semua saling bertukar kasih sayang. Mawar pun masih berharap, untuk bisa merasakannya.
Laiknya arti harfiahnya, begitulah Mawar berdiam. Hanya siap menunggu seseorang yang ditunggu datang dan melepas keluhnya sejenak. Ia tau jika tekanan akan membuatnya semakin kuat, Filosofis bercapung dalam hidup tak lagi diremehkannya. Sekalipun terus dikejar, ia dapat berkelit kencang namun tetap ketinggian yang rendah. Ia tau jika rendah hati dan sabar dapat melindungi diri. Layaknya duri pada batang mawar dapat menjaga keutuhan estetik mawar di atasnya. Sesuatu berawal dari pembelajaran. Perlahan ia kecap anggur muda yang tak begitu manis. Hidup tak selalu berjalan mulus. Mawar terus saja merenungkan sesuatu tanpa adanya gerakan selain kelopak matanya yang naik turun melindungi bagian mata di dalamnya. Sepi, sunyi, tak ada yang menemani. Ia menengok di samping kiri, yang ada hanya ilusi. Mawar sedang merindu sendiri.
     Sejenak terdengar derap langkah kaki seseorang mendekat membuyarkan kumpulan capung-capungi, namun hanya untuk lewat, tak berhenti. Lain waktu suara hentakan kaki, namun hanya untuk berlari. Ia mulai bosan. Jenuh, sudah lama ia menunggu di bangku taman itu sedari pagi, namun tak ada hasil. Mawar telah lama menunduk, entah tahu atau tidak sesuatu yang ditunggunya sudah berdiri lama menunggunya. Orang itu masih di sana dengan seikat anggur kuning di tangannya. Ia terlambat, Mawarnya sudah lama layu. Ia mengelus tengkuknya perlahan, lalu meletakkan bunga mawar merah di sela daun telinga Mawar. Kecupan manis tanda ia sedang menangis. Dalam benaknya berkata, "Wahai Mawarku, mengapa engkau layu?"
i sela daun telinga Mawar. Kecupan manis, tanda ia sedang menangis, dalam benaknya berkata "Wahai Mawarku, mengapa engkau layu?"


Komentar

Postingan Populer