Asa Bersama Menghidupkan UMKM-Editorial

 

Pandemi memberikan imbas besar pada sektor perekonomian. Baik ekonomi skala besar maupun skala kecil, turut mengecap pahitnya kerugian di masa pandemi. Hal serupa juga dialami oleh UMKM di sekitar Unnes. Ketiadaan mahasiswa--sebagai target pasar--membuat banyak UMKM merugi. Alhasil, daya beli barang dan daya guna jasa pun merosot tajam.

Pelaku UMKM semakin babak belur dengan diterapkannya PPKM sejak Juni lalu. Adanya kebijakan ini akan mempersempit ruang gerak mereka. Terlebih saat diterapkannya jam malam. Kebijakan tersebut jelas merugikan pelaku UMKM yang baru menggelar lapaknya malam hari. Belum lagi, dibatasinya mobilitas warga saat PPKM. Akibatnya, pelanggan pun jadi berkurang. Kerugian tak bisa ditepis lagi. 

“Kalau kerugian bisa dibilang lumayan, omzet bisa turun sampai tujuh puluh persen dari hari normal. Perputaran uang juga tidak secepat sebelum pandemi,” jelas Iwan, pemilik percetakan (19/08).

Meskipun demikian, tak lantas membuat pelaku UMKM menyerah begitu saja. Mereka menjajal beragam alternatif guna mempertahankan usahanya. Alternatif tersebut, seperti pemilik laundry menunggu borongan, pemilik indekos yang mempertegas aturan pembayaran, pemilik warung yang memangkas karyawannya, sampai penjual cilok yang mengurangi produksi.

Untuk mempertahankan usaha, tak bisa hanya dibebankan pada pelaku UMKM. Ulur tangan berbagai pihak pun diperlukan saat ini. Salah satunya dari pihak kampus. Sebagai pihak dengan intelektualitas lebih dibanding masyarakat awam, pihak kampus bisa melakukan sosialisasi pemberdayaan usaha, khususnya usaha mikro. Terlebih jika melihat penertiban lapak-lapak pedagang kecil. Seperti yang terjadi pada pedagang di Simpang Tujuh.

Tak hanya pihak kampus, pemerintah setempat pun mengambil andil besar bagi denyut usaha mikro. Ulur tangan pemerintah bisa berupa pemberian bantuan. Tak bisa memungkiri, subsidi pemerintah sangat berarti bagi mereka. Meski jumlahnya tak banyak, bantuan ini bisa menjadi obat untuk keprihatinan di tengah gempuran pagebluk. Namun, pemberian bantuan ini pun belum merata.

“Kalau sekarang ya belum ada bantuan. Kita berharap sih pemerintah menyorot (pedagang) kayak saya ini, ya pedagang kecil. Di fasilitasi tempatlah atau dibantu dalam bentuk apapun gitu kami juga berharap,” ucap Handoko, penjual cilok. 

 Harapannya, asa untuk menghidupkan UMKM ini tidak hanya sekadar omong kosong belaka. Namun, bisa terwujud dengan nyata. Sejatinya, permasalahan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab personal, tapi juga tanggung jawab berbagai elemen. Mulaidari civitas kampus Unnes, pihak pemerintah, hingga seluruh tingkatan masyarakat.


Buletin Express edisi 10-2021 bisa diunduh di tautan berikut :

https://linikampus.com/2021/09/10/buletin-express-edisi-10-tahun-2021/



Komentar

Postingan Populer