Hari Kemerdekaanku
Karya: Muhammad Ghifari Shafa
Siapa yang tak kenal dengan hari Kemerdekaan Indonesia? Tentulah 17
Agustus 1945. Bagiku,hari itu adalah hari yang sangat special Hari di mana aku
bisa bersorak gembira.Dan mungkin aku juga bisalangsung hadir pada acara itu,
proklamasi-jika aku hidup pada waktu itu. Bagi anak muda zaman sekarang,sudah
jelas terkena dampak globalisasi, tampaknya kurang memaknai hari kemerdekaan.
Mungkin itu terjadi pada segelintir orang-dari muda hingga dewasa- di sekitar
lingkungan tempat tinggalku.
“Rano!” Dari belakang aku dengar
suara panggilannya-Tio-teman yang tinggal dekat sekolah.
“ Ada apa?” kutanya dengan penuh
curiga. Dia berlari mendekat ke arahku, lalu berhenti dengan terengah-engah.
“Sepertinya kampung kita belum
merdeka sepenuhnya.”ucapnya lirih
“Maksudmu?”Aku semakin ingin
tahu apa yang sedang dibicarakan.Kemudian dia membisikan sesuatu di
telingaku.Seketika aku sangat terkejut. Aku pulang ke rumah dan menyuruh semua
orang di rumahku bersiap menghadapi ancaman kemerdekaan kampung ini. Namun, tak
ada orang di rumah, hanya ‘fatamorgana”
aku melihatmereka. Aku berdiri sejenak di dapur rumah, lalu mengambil
senjata yang kuperlukan, seperti clurit, pisau, dan beberapa tajam lainnya. Aku
bergegas keluar pergi ke ujung kampong di sana, dan ada juga keluargaku. Dan
percayalah, hanya aku tampaknya yang sangat gila dengan membawa membawa
“persenjataan” itu.
“Ada Apa di dalam sana?” tanyaku
pada Denis,temankuyang merupakan anak tetua di kampong.
“Kepala Desa sedang berunding
dengan Seorang kampong.”
“ Siapa penjajah itu?’Tanya Sam
yang tiba-tiba ikut mengobrol.
“Dia orang yang mengaku bahwa
kampong ini milikinya, dan kita harusmembayar upah/pajak jika masih ingi
tinggal di sini.”
“Jadi, Siapa dia sebenarnya.”
“Sepertinya dia yang mencuri surat kepemilikan tanah dari kepala desa
lima tahun lalu.”
Aku mengobrol diantara kerumunan
orang hingga aku bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dibincangkan.Kulihat
“penjajah” itu menunjukkan surat tanahnya yang sebenarnya palsu. Lalu aku pergi ke rumahku dan duduk dengan
gelisah.
Benar saja, rapat itu sepertinya
telah selesai. Parawarga sudah pulang ke runah masing-masing. Aku bertanya pada
ayahku, bagaimana hasil rapat darurat itu.Katanya, orang ituyang bernama Jono
masih ingin “menjajah” kampong ini. Aku tak bisa tinggal diam. Kuajak semua
pemuda di kampungku berunding untuk
merencanakan usaha”kemerdekaan”kampong ini.
“Bagaimana caranya agar kampong
ini bebas dari ‘penjajah’?” Tanyaku yang
memimpin rapat kecil ini.
“Hmmm….Kita bisa saja mengusir
orang itu dari kampung ini” Jawab Denis santai.
“Menurutku, sepertinya lebih
baik kita ambil surat tanahnya yang sudah dicuri ‘penjajah’ itu.
Tak lama, kami akhirnya
bersepakat untuk mengambil surat tanah yang dicuri itu.Malamitu, kami
menyebarke seluruh kampong, menyusuri setiap jalan sempit. Tiba-tiba
Simonterpernjat. Ketika ia melihat kea rah sebuah pabrik yang kumuh disebelah
took bangunan, ia melihat dari balik terais jendelka belakang seorang pria bertubuh gempal, berjenggot dan berkumis
lebat, lengka dengan rompi kulit. Ya, itu dia orangnya, sang ’penjajah’. Kami
pun pulang ke markas kami. Loni, mengusulkan membawabeberapa senjata kecil, dan
kami pun segera mencarisenjata yang cukup. Aku membawa crossbow(panah mekanik
kecil) buatanku. Beberapa yang lain membawa tongkat, pisau, ketapel, dan bambu
runcing. Oh ya, Simon membawa drone otomatis buatannya yang berukuran 5x4 cm
untuk mencari surat tanah dan dokumen lainnya.
“Ayo kita perangi mereka!”Aku Mengomandoi.
Kami mengendap-endap lewat pintu depannya, lalu bersembunyi berpencar. Tiba-tiba, Deins bersin. Tampak seorang
bertubuh kekar mulai mencari sumber suara dengan Gerang. Saat dia mendekati Denis,Tio melemparkan logam dengan
ketapelnya di kepala orang kekar itu. Orang itu akhirnya dapat memergoki kami.
Dengan serempak , kami menyerangnya hingga terkapar dengan luka parah. Namun
masalah itu justru tambah gila. Sekitar tujuh belas pria dewasa bersenjata
pisau atau pistol mengepung kami.Kami pun melancarkan “perang puputan”. Untumg
saja, salah satu drone milik Simon telah memanggil polisi(mengirimkan rekaman
video dan lokasi).Naasnya, Loni tertembak. Ia sekarat. Walau pun 71 Indonesia
Merdeka, para polisi masih saja telat menangani masalah ini. Baru setelah kami
berhasil menumbangkan 2 musuh lagi, polsi dating bertepatan dengan nontifikasi
pemberitahuan ditemukan surat tanah dan dokumen lainnya. Namun kami cukup
kecewa karena polisi yang dating hanya 7 orang, mengingat musuh yag cukup
banyak.
Untunglah, persenjataan polisi
itu cukup hebat, sehingga dalam 15 menit kami berhasil menumpas semua bedebah
itu. Dokumen itu akhirnya ditemukan, esoknya, kami bersama warga kampunga
merayakan hari kemerdekaan dari penjahat licik yang menjajah kampong kami. Kami
pun merayakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia dua hari setelah kampong kami
merdeka. Kini aku yakin, merdeka adalah suatu hal yang berharga dan paling
penting, karena aku bisa bebasbermain
dan hidup tenang sambil enikmati kemerdekaan sebagai anak muda. Sekali merdeka,
tertap merdeka!![SHAFA]
Komentar
Posting Komentar