Namanya Fia (bagian 1)

          Namanya Fia, siswa kelas enam di suatu sekolah dasar di pinggiran kota tempat tinggalnya sangat sulit dijarah orang dari luar kota, Tapi, lihatlah sekarang di wajahnya begitu terlihat cerah tak sedikit pun terlihat dari wajahnya  rasa lelah, malas, justru sebaliknya ia sangat senang berangkat sekolah yang berjarak 10 km setiap harinya. Dia berangkat sekolah setelah salat subuh di mushoola pinggir sungai  pemisah antara kotanya dan kota seberang yang di sanalah tempatnya menimba ilmu selama ini.

          Fia tak meminta uang kepada siapa pun, lantas ingin meminta kepada siapa, dia miskin bapak ibu dan miskin harta. tapi apakah dia mengeluh? Jawabanya tidak sekali pun. Dia pergi sejauh 5 km untuk menjadi buruh di sana, kalau pulang sore ketika matahari mulai terbenam, terkadang salat maghrib di musholla di dekat rumah jika ia datang dengan cepat, namun ia lebih sering salat di perjalanan 

        Hingga suatu saat tibalah minggu ujian kelulusan penentu akhir belajarnya ini. Maka dari itu dia mempersiapkan diri untuk mengulang kembali pelajaran yang telah dia pelajari,  namun dia memiliki cara belajar yang unik di mana teman-temannya tidak melakukan hal ini, dia biasa keluar kelas lebih awal tapi bukan pulang, melainkan dia pergi menuju perpustakaan untuk meminjambuku yang hendak di pelajari dan belajar di perpustakaan sekolah hinga jam buka perpustakaan berakhir.

           
        Pagi itu, Mentari bersinar cerah di luar, tapi malu-malu menampakkan dirinya, tertutup awan cerah bulan Juni akhir. Banyak orang di sana, tempat perpisahan dirinya dengan teman SD-nya itu. Wajahnya begitu menyenangkan untuk dilihat, namun tidak dengan hatinya. Ia takut hari-harinya akan terasa hampa ketika tak lagi jumpa dengan teman kesehariannya di sekolah.Bercertita ria, diskusi bersama, tertawa hingga berduka terasa telah berlalu begitu saja.
Masa biarlah berlalu, itulah yang selalu dipikirnya guna menghilangkan rasa gelisahnya itu.Tapi tetap saja hati tak bisa dibohongi. Dia masih berdiri dalam lamunannya, mengenakan baju wisudanya, dia terlihat sangat cantik dengan pakaian wisudanya itu. Tapi beberapa jam kedepan dia akan meninggalkan tempat ini, sekaligus kenangan indah selama bersekolah di sini.
Di dalam lamunannya itu, entah dia seakan terbang pada kenangan indah yang mungkin hanya dapat dia rasakan di tempat ini.Bangku di dalam ruangan hampir penuh, tapi lihat dia masih saja berdiri di daun pintu ruang ganti melihat alam dan yang pasti masih dalam lamunannya itu.Suara hentakkan hendak mendekat, Fia refleks menengok segera. Alangkah terkejutnya dia melihatnya,
“Aku hampir saja akan memanggilmu tadi. Yuk, Fi acara mau dimulai tuh!” Kata temannya itu.”Ah..eh ya thanks ya sudah mengingatkan aku.”jawabnya salah tingkah, bagaimana tidak, ya teman itulah yang selalu membuat Fia tersenyum indah melupaka semua yang baru saja dipikirkannya.
Lima menit berlalu, Fia telah berada di panggung utama bersama teman-teman lainnya. Mereka sibuk menyiapkan posisi di atas panggung.
“FI, aku minta mewakili teman lainnya minta maaf ya kalo kami banyak salah sama kamu.” Kata seseorang dari belakang.
“ Eh, iya aku juga minta maaf juga ya.”Jawab Fia gugup. Sekilas dia kaget dengan  kehadirannya.Fia bingung hendakbicara apa setelah itu, tapi ketika hendak mengtakan sesuatu, orang itu melanjutkan pembicaraan.
“Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita.Kau tahu, setelah wisuda ini aku akan menyiapkan diri untuk merantau ke Barat pulau sana. Sedangkan telah memutuskan untuk tetap di kota ini.Tapi aku berharap kita dapat bertemu pada musim pulang kampung nanti.”Dia menatap Fia dengan tatapan yang takkan bisa Fia lupakan.
Wajah Fia tertunduk dalam. Mengapa dia mengingatkan akan hal ini? Katanya dalan hati. Fia kembali mengangkat kepala kembali, tersenyum tipis menatapnya sebentar, entah apa yang terjadi, Dia membatalkan perkataan yang ingin dikatakannya tadi.
Dengan Baju wisuda ungu muda dan kerudung merah muda, Fia terlihat sangat menawan, tapi tidak jika melihatnya lewat hatinya. Inilah yang dia risau selama setahun terakhir ini. Lihat akibat kerisauannya itu, sampai-sampai rata-rata hasil UN tidak lebih dari 8,5, padahal jika dilihat, gadis sepintar dia seharusnya dapat melampaui rata-rata 9.5 atau lebih tinggi lagi. Ini sangat jauh sekali dari nilai try outnya yang sampai mencapai rata-rata 9.
Dia tak seperti dulu yang rajin, hingga nilai-nilainya tidak ada yang di bawah 9, hampir seluruhnya 9 keatas bahkan adayang mencapai nilia sempurna, 100. Tapi itu semua telah berubah. Tapi masih ada satu hal yang tak pernah pindah maupun berganti, ya itulah keimanannya.Dari sinilah dia mencoba untuk mengadukan semua masalahnya kepada-Nya, meminta bantuan juga pertolongan-Nya, karena tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Allah, begitulah menurut Fia.
.



         

Komentar

Postingan Populer