ENIGMA TIGA ANOMALI Karena Persahabatan adalah Pengecualian dalam Sebuah Perbedaan #1
“Dunia adalah
sementara, tempat manusia singgah dan berlalu.” (Abdul Hamid)
SATU
Di pagi menuju siang hari itu dia berjalan-jalan santai di tengah
keramaian kota. Entah apa yang sebenarnya dia rasakan, yang jelas dia merasa
bahagia bisa kembali berada di sini, di tempat yang dulu pernah membuatnya
merasa seseorang yang paling beruntung karena pernah dilahirkan di sini.
Ibukota masih seperti dulu saat ia masih menginjak sekolah dasar.
Sekolah yang mulai mengubah hidupnya dan segala hal tak pernah diketahui
olehnya. Sejenak dia beristirahat di bangku yang berada persis di pinggir taman
itu dan menghadap ke jalan raya di depannya. Ia kembali merasakan aura itu,
Aura yang menjalari seluruh tubuhnya untuk terus berulang kali memikirkan dan
mengingatnya. Dia berjanji tidak akan melupakan masa itu. Masa saat ia masih
bersama kakeknya di kota ini. Sudah lama sekali waktunya.
Lima belas tahun lamanya dia
masih mengingat kakeknya. Kakek yang ceria, menyenangkan, yang paling
disukainya, punya banyak cerita. Cerita
yang mengisahkan dirinya atau masa kecil kakeknya, tentang kehidupan, atau
bahkan tentang.... Ah tidak, dia mulai tidak bisa menjaga dirinya.
Sejenak dia ingin melanjutkan perjalanan namun terhenti saat suara
seseorang memanggilnya.
“Ihsan, itukah engkau?” Samar-samar kedengarannya.
“Maaf. Apakah kau Ihsan?” Seseorang itu kembali bertanya dengan
nada ragu. Lelaki yang dipanggil Ihsan itu memutar badannya menghadap ke sumber
suara. Dia terkejut, terdiam sejenak setelah tidak sengaja dia mengatakan
sebuah kata.
“Shafa?” Ucap Ihsan ragu.
“Ya, aku shafa. Shafa.” Kata seseorang di depannya malu diikuti
senyuman di bibirnya. “Sudah lama kita tidak bertemu, kan? Berapa lama ya?” Tambahnya
memulai pembicaraan. Dia melihat Ihsan masih kebingungan dengan kebetulan ini.
“Eh, entahlah. Tap, tapi.. bagaimana kamu bisa di sini?” tanyanya
dengan gadis di hadapannya itu.
“Panjang sekali ceritanya, kau sendiri bagaimana?” Shafa balik
bertanya. “Aku di sini karena inilah tanah masa kecilku bukan? Kau tahu itu?”
Jawab Ihsan sekenanya. Memang sudah lama
sekali dia tidak bertemu dengan gadis di depannya ini. Tapi mereka dulu
sempat berteman akrab. Setelah masalah itu muncul.
Tanpa mereka sadari, dari sejak bertemu tadi mereka masih dalam
keadaan berdiri. Ihsan lalu menawarkan Shafa untuk ikut duduk di bangku yang
sempat ditinggalkan olehnya tadi.
“Ya, aku tahu hal itu, tapi bukankah kau sedang menyelesaikan
kuliah?” Shafa kembali memulai pembicaraan.
“Aku sudah lulus, kau lupa ya sekarang berapa umurku?” Tanya Ihsan
bergurau. “Lagipula kau bukankah berada di Ibukota Kabupaten?” Tanya Ihsan
penasaran. Mendengar jawaban dari Ihsan, Shafa menepuk dahinya seakan lupa
suatu hal.
“Oh, entahlah. Kita sudah lama tidak bertemu.” Jawab Shafa.
“Sebenarnya aku ke sini hanya ingin menjenguk keluarga ayahku, kakekku sedang
sakit. Sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit pusat.” Tambah Shafa.
“Oh ya, jarang-jarang kau jalan sendirian di tempat seperti ini.
Apakah sedang ada masalah?” Tanya Shafa setelah melihat Ihsan hanya terdiam.
“Ah Tidak, aku hanya ingin merasakan aura seperti dulu lagi.” Ucap
Ihsan santai. Dia merasakan udara sejuk di sekitarnya. Dia menghirup napas
dalam, lalu mengeluarkannya.
“Sebenarnya aku ingin mengenal kota ini lebih dari yang pernah
diceritakan kakek dulu.” Kali ini Ihsan memulai kembali pembicaraan yang terhenti
tadi. “Kota ini mengingatkan aku dengan almarhum kakekku.” Ihsan menambahkan.
Sekiranya dia sedang baik mood-nya, ia akan bercerita banyak. Tapi
mulutnya tercekat. Tidak, ia tidak bisa menceritakannya.
“Cerita apa itu? Kelihatannya menarik.” Tanya Shafa penasaran.
Sudah lama tak bertemu dengan Ihsan, setelah bertemu ia serasa ingin mengingat
masa lalu Ihsan yang penuh kegembiraan. Ya, kegembiraan yang mungkin menurut
Shafa mulai hilang saat kakeknya meninggal. Mereka berpisah sejak seminggu
sesudah kematian kakeknya Ihsan. Ihsan memutuskan untuk melanjutkan sekolah di
luar propinsi, sama seperti Shafa hanya saja beda tempat. Mereka sama-sama
merantau. Meninggalkan tempat masa kecil mereka ini.
“Apa kau yakin ingin mendengarnya?” Tanya Ihsan mengejutkan Shafa
yang terlihat melamunkan sesuatu.
“Eh,..ya aku yakin.” Jawab Shafa dengan yakin dikuti anggukan
kepalanya. Shafa memang selalu mudah penasaran terhadap sesuatu hal, apalagi
jika bersangkutan dengan dirinya. Walau dia tidak yakin kalau cerita Ihsan ini
ada hubungannya dengan dirinya.
Ihsan mengubah posisi duduknya sejenak sambil membetulkan
kacamatanya. Dia memulai ceritanya.[]
Komentar
Posting Komentar