ENIGMA TIGA ANOMALI Karena Persahabatan adalah Pengecualian dalam Sebuah Perbedaan #2
“...Tetapi jikakamu dipanggil, maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan...”(Q.S. Al-Ahzab/33:53)
DUA
Hasan bersama cucunya baru saja sampai di tempat tujuan mereka.
Pelabuhan tampak menyenangkan sore itu, burung camar berkicauan terbang
berkeliling di atas pesisir pelabuhan. Banyak orang sibuk dengan barang
bawaannya, para nelayan bersiap untuk mengangkat hasil panen mereka, menyiapkan
jaring. Sekarang musim yang mendukung untuk menjaring ikan. Perahu kecil
dipanaskan, siap untuk mengantarkan para nelayan ke tengah lautan.
Hasan baru ingin
menuruni tangga dari kapal yang dinaikinya saat seseorang memanggilnya dari
kejauhan. Terdengar samar namun Hasan bisa mengenalinya.
“Hasan! Selamat datang.” Seseorang datang menghampirinya dengan
berbicara dalam bahasa Cina bercampur bahasa Hindia yang tidak begitu bagus.
Senyum tersungging jelas di wajah orang itu. Sesaat setelahnya, mereka bertemu,
saling bersalaman, dan merangkul satu sama lain seperti sahabat lama yang baru
saja bertemu setelah lama berpisah.
“Salam. Bagaimana
kabarmu, Kawan?” Tanya orang itu lagi kali ini dengan wajah yang lebih santai.
Namanya Tsu Lam Angkeo, panggil saja dia cik Lam. Dia teman lama Hasan yang
sudah lama bekerja di pelabuhan Ibukota Propinsi sejak sepuluh tahun lamanya.
Hasan mengenalnya saat dia baru sekali datang ke Ibukota dan belum tahu
sesuatupun tentang Ibukota. Tujuannya sebenarnya ia ingin ke tempat
kelahirannya di kota kabupaten, namun karena ketidaktahuannya, dia ternyata
turun di kota yang salah. Dia salah memilih rute. Wajar saja hal itu terjadi
karena dia anak muda yang belum pernah merantau jauh dari tanah kelahirannya.
Melihat Hasan yang
kebingungan, seorang pemuda keturunan cina yang telah lama menetap di ibukota
diam-diam mengamatinya. Akhirnya, pemuda keturunan cina itu menghampirinya dan
mengajaknya berkenalan. Ya, di pelabuhan inilah mereka bertemu.
“Alhamdulillah selalu baik. Kamu sendiri bagaimana?” Jawab Hasan.
Setelah pertemuan itu, mereka berbincang-bincang cukup lama. Tanpa sadar Mereka
ternyata masih berasa di pinggir dermaga. Lalu Cik Lam mengajaknya untuk
menetap sejenak di warung dekat pelabuhan untuk beristirahat sejenak.
“Kau terlihat
letih sore ini, pasti akibat perjalanan panjang tadi. Coba lekas minum
sejenak.” Ucap cik Lam dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya. Cucunya
hanya mengikutinya tanpa komentar sedikitpun. Sore itu terlihat indah dengan
suasana pelabuhan seperti yang biasa Hasan lihat setiap kali dia datang ke
sini.
“Ngomong-ngomong
soal perjalananmu kemari, mengapa baru terlihat sekarang. Aku telah lama
menunggumu sejak terakhir kali kau pergi. Sudah berapa tahun ya? Apakah kau ingat?”
Celoteh cik Lam mengawali pembicaraan. Cik Lam memang terkenal suka berbicara
jika ada orang di sekitarnya. Semua orang menyukai sifatnya itu.
“Benarkah? Oh.. Aku kira kita baru sebentar berpisah. Sekitar lima
tahun, bukan?” Jawab Hasan. “Aku cukup sibuk karena aku harus mendidik cucuku
yang satu ini.” Tambahnya. “Dia
terlihat lebih pintar, bukan?” Ucap Hasan bangga sambil menatap wajah nyaman
cucunya itu. Cucunya hanya malu mendengarnya.
“Oh. Apakah ini
Ahsan yang kau ceritakan lewat suratmu itu?” Tanya cik Lam memastikan. Dia
terlihat sangat gembira dapat menatap cucu kebanggaan temannya itu. Cukup tampan
dan terlihat pandai. Pikir cik Lam.
“Iya. Aku pergi
jauh ke tempatku belajar dulu sebelum bertemu dengan kau.” Jawab Hasan
menerangkan. “Dia sangat antusias untuk belajar. Di sana dia sangat semangat
membaca semua buku yang ada di perpustakaan, mengikuti semua keahlian, dan
masih banyak lagi.” Tambahnya bangga.
“Memang sejak
kapan kakek bertemu dengan cik Lam ini?” Kali ini Ahsan kecil yang berucap. Cik
Lam yang merasa disebut-sebut namanya lekas langsung menatap Ahsan dengan
senyuman yang indah.
“Ceritanya panjang, nak.” Jawab cik Lam kali ini dengan mengelus
pelan rambut halus Ahsan. Memang jika diceritakan akan sangat panjang. Kisah
pertemanan yang diawali dari sebuah perbedaan. “Dulu, kakekmu itu sangat hebat
dan cerdas.” Tambahnya.
“Cerita? Cerita
apa itu, kek?” Tanya Ahsan penasaran sambil menatap wajah kakeknya. Tanpa
sadar, Hasan melihat senyuman yang sangat indah dari wajah Ahsan. Dia jadi
teringat almarhumah anaknya, Shalih Hasan bin Hasan, ayah dari anak kecil di
sampingnya itu.
“Ah, jangan
sekarang, nak” Jawab Hasan malas. “Hai kau ini, membuatnya penasaran saja. Kau
tahu ‘kan bagaimana jadinya jika dia mulai penasaran.” Tambahnya kepada cik
Lam. cik Lam yang membuat Ahsan penasaran hanya tertawa.
“Sudahlah kau
jawab saja pertanyaan dari cucumu itu.” Ucap cik Lam singkat.
“Tapi kau tahu,
kan. jika aku sudah bercerita, dia akan terus memaksa sampai habis ceritanya.”
Tangkas Hasan cepat.
“Sudahlah, nak. kita lanjutkan besok saja. sebentar lagi adzan
maghrib di sini akan berkumandang.” Lanjutnya mengalihkan pembicaraan. Ia lalu
menatap cik Lam sejenak. Seperti tahu maksud pikiran Hasan, cik Lam langsung
membantu mengantar mereka untuk menuju ke masjid sekitar pelabuhan.
Memang tidak terlalu bagus bangunan tua yang akan digunakan sebagai
masjid ini. Tapi setidaknya Hasan dan cucunya bisa melaksanakan kewajiban
mereka di sini. Sebenarnya bisa dibilang bekas klenteng tua yang sudah
ditinggalkan pemeluknya untuk melaksanakan ibadah. Termasuk cik Lam. Hasan tahu
bahwa temannya itu akan lebih memilih tempat ibadah di luar pelabuhan yang
dirasa sangat pantas walaupun harus menempuh jarak yang cukup jauh.
Hasan sangat mengenal temannya itu, cik Lam termasuk pemeluk agama
yang taat. Dia salut pada temannya itu, dia pikir jika pemeluk agama selain
islam saja bisa taat beribadah, harusnya dia harus bisa lebih taat sebagaimana
pemeluk agama lainnya. Itulah sebabnya dia sangat suka menyukai tempat ini
sejak pertama kali dia datang ke sini.
Mereka sudah tiba di tempat solat. Cik Lam langsung pamit
meninggalkan mereka. Hasan mengangguk padanya, tanda terima kasihnya.
“Kutunggu di rumahku nanti malam. Kalian datanglah ke sana ya!”
Ucap cik Lam sebelum dia meninggalkan Hasan dan cucunya di depan bangunan
masjid itu.
Walaupun masih bangunan tua, tempat ini tidak pernah sepi.
Masyarakat sekitar cukup semangat beribadah di sana. Merekapun memasuki masjid
untuk melaksanakan ibadah mereka, solat maghrib berjamaah.
***
“Aku sangat menyukai makanan ini setiap kali aku datang ke tempatmu
ini.” Ucap Hasan. “Apakah kau menyukai makanan ini, Hasan?” Tambah Hasan
bertanya kapada cucunya saat dia dan cucunya datang ke rumah cik Lam selepas
solat tadi. Cik Lam langsung menyambut mereka dengan menyuguhkan makanan
kesukaan temannya itu. Dia tahu temannya
ini tidak boleh memakan babi yang biasa ia makan itu, makanya ia membawakannya.
Sedangkan Ahsan hanya mengangguk, makanan ini memang enak.[]
Komentar
Posting Komentar