Evaluasi Perkuliahan Lalu dan Kesiapan Memasuki Semester Baru
![]() |
Ilustrasi: Gallah Akbar Mahardika |
Sejak pertengahan Maret lalu—tepatnya pada 15 Maret 2020, Universitas Negeri Semarang melakukan perkuliahan secara non tatap muka. Terbitnya surat edaran pada saat itu mengawali diberlakukannya kebijakan kuliah daring. Dengan ini, kegiatan belajar mengajar yang semula tatap muka dialihkan menjadi daring melalui fitur online, seperti Elena, Whatsapp, Discord, Zoom, dan aplikasi lainnya. Mulanya, perkuliahan daring dilaksanakan sampai 11 April 2020. Namun, situasi pandemi yang semakin memburuk, menyebabkan pelaksanaan kuliah daring harus diperpanjang hingga akhir semester lalu.
Jika menilik kembali pelaksanaan kuliah daring semester lalu, masih ada beberapa catatan yang perlu dievaluasi. Sebagian besar catatan berasal dari mahasiswa yang mengeluhkan sejumlah hambatan dalam pelaksanaan kuliah daring. Mulai dari sinyal, tugas, kuota, sampai server yang acapkali down saat digunakan. Permasalahan-permasalahan tersebut hendaknya segera ditindaklanjuti, mengingat pihak kampus kembali merencanakan kuliah daring untuk semester ganjil 2020/2021 mendatang. Lagi-lagi, penyebaran Covid-19 menjadi alasan untuk memperpanjang kuliah daring.
Terkait rencana mendaringkan perkuliahan pada semester ganjil mendatang, sudah dikonfirmasi oleh Zaenuri selaku Wakil Rektor Bidang Akademik. Menurut Zaenuri, untuk dua bulan pertama, yaitu September dan Oktober, perkuliahan masih berjalan secara daring. Hal tersebut menuai berbagai tanggapan, khususnya dari mahasiswa. Mereka mengharapkan persiapan kuliah daring semester depan lebih matang.
Evaluasi Kuliah Daring Semester Lalu dengan Berbagai Hambatannya
Terhitung kurang lebih empat bulan, Unnes melaksanakan kuliah daring. Penerapan yang terbilang dadakan menimbulkan sejumlah hambatan dalam pelaksanaannya. Karena berbasis online, maka persoalan yang sering dijumpai tak jauh dari masalah jaringan. Kendala sinyal menjadi masalah yang kerap terjadi selama kuliah daring. Beberapa wilayah mengalami akses jaringan yang kurang sehingga berdampak pada sulitnya sinyal. Masalah lain terkait jaringan, yaitu ongkos kuota yang tidak sedikit. Tak bisa memungkiri, pelaksanaan kuliah daring harus ditunjang dengan persediaan kuota yang memadai. Ditambah lagi, harga kuota yang tidak murah dirasa sangat membebani, terutama bagi mahasiswa dari ekonomi menengah ke bawah.
Hal senada juga disampaikan oleh Nadzifatul Hasanah, mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer angkatan 2019. “Selama perkuliahan daring semester lalu banyak hambatan yang saya rasakan diantaranya adalah kuota yang tidak memadai dan sinyal yang tiba-tiba hilang,” jelasnya melalui Whats app.
Selain masalah jaringan, yang perlu disoroti dari perkuliahan daring semester lalu, yaitu pemberian materi. Sejumlah mahasiswa mengaku kesulitan mengikuti pembelajaran via daring karena kurang mendapat penjelasan dari dosen. Putri Ayu Oktafia—mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab angkatan 2019, membenarkan pernyataan tersebut. Menurutnya, ia kurang memahami materi karena tidak disampaikan dengan maksimal. Selain masalah penjelasan, intensitas pemberian tugas dinilai lebih banyak dibanding pemberian materi. Di beberapa mata kuliah justru kedapatan memberikan tugas tanpa disertai penjelasan dan pemberian materi. “Kendala terbesarnya yaitu tugas yang dinilai memberatkan. Beberapa matkul malah jarang dijelaskan tapi diberi tugas,” ucap salah satu mahasiswa Fakultas Mipa angkatan 2019—Dea, melalui pesan suara.
Kendala lain yang turut mewarnai jalannya kuliah daring, yaitu masalah server yang kerap down akibat diakses oleh banyak orang. Akibatnya, mahasiswa kesulitan mengakses materi, bahkan mengalami keterlambatan saat mengumpulkan tugas. Tak hanya itu, server juga down saat ujian tengah berlangsung. Hal tersebut sangat disayangkan oleh mahasiswa karena berimbas pada capaian mereka.
Tak hanya mahasiswa, dosen juga mengalami beberapa kendala selama kuliah daring semester lalu. Menurut salah satu dosen yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia—Septina Sulistyaningrum, ada beberapa hambatan yang dirasakan selama mengajar dalam jaringan. Pertama, interaksi dengan mahasiswa yang terbatas karena dalam pembelajaran daring ini tidak semua mahasiswa memiliki fasilitas yang memadai dalam mengikuti perkuliahan (laptop, ponsel yang memadai, terlebih lagi jaringan internet). Kedua, kesulitan dalam mengukur pemahaman mahasiswa terhadap materi yang disampaikan karena kadang mahasiswa enggan menyampaikan dan mengajukan pertanyaan jika ada materi yang belum dipahami. Ketiga, ada jenis materi yang sulit untuk disampaikan secara daring.
Selain itu, kendala yang umumnya dirasakan dosen terkait umpan balik yang lambat. “Umpan balik, pendampingan mahasiswa praktek kalah efektif dengan metoda konvensional (non daring),” ungkap Didik Nopianto Agung Nugradi, Dosen sekaligus Kaprodi Teknik Arsitektur.
Kebijakan Selama Kuliah Daring dan Semester Depan
Meskipun pelaksanaannya terbilang mendadak, namun pihak kampus menupayakan agar kuliah daring bisa berjalan optimal. Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik—Zaenuri, kuliah daring tidak dipersiapkan sebelumnya, tetapi agar pembelajaran daring bisa optimal, maka Unnes sesuai arahan rektor, mendesain pembelajaran daring. Walaupun belum sempurna, paling tidak dapat meminimalkan masalah.
Salah satu kebijakan kampus untuk membantu perkuliahan daring, yaitu adanya subsidi kuota. Hal tersebut dilakukan untuk membantu mahasiswa dalam penyediaan kuota guna menunjang perkuliahan daring. Hanya saja, bantuan tersebut belum dapat menjangkau keseluruhan mahasiswa. “Tolong lebih diperhatikan untuk pengiriman kuota gratisnya agar menjangkau semua mahasiswa,” tulis Frissillia Anzalina Devy—mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia.
Terlepas dari masalah subsidi kuota, Zaenuri lebih mengarahkan untuk bisa memaksimalkan penggunaan Elena Unnes. Pasalnya, pihak kampus mengadakan lomba bagi para dosen dalam hal pelaksanaan kuliah daring. Hal ini dilaksanakan guna sebagai evaluasi yang ditujukan untuk apresiasi dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran. “Kalau dilihat dari pertisipasinya, rata-rata mencapai 89,38% terkait penggunaan Elena. Teruntuk kuliah online, bisa pakai Elena atau yang lain. Namun yang dilombakan itu memang untuk Elena.” Ungkap Zaenuri.
Menanggapi hal ini, cukup miris jika pihak kampus mengadakan perlombaan tanpa adanya pembekalan bagi dosen dan mahasiswa sendiri. Memang sempat beredar info diadakannya training pembekalan bagi para dosen dalam menanggapi perkuliahan semester depan. Namun, tak banyak dosen yang justru mengetahuinya. Didik—sebagai Kaprodi bahkan bercerita merasakan belum adanya arahan yang jelas dari pihak kampus, “Seingat saya memang ada rencana pelatihan secara daring untuk peningkatan kemampuan dalam pengajaran. Namun untuk arahan lainnya saya rasa belum. Mungkin saja sudah, tapi saya tidak ikut.”
Kurangnya sosialisasi dari pihak birokrasi dan dosen dirasa masih perlu diperjelas lagi. Terlebih dalam menyiapkan sistem pembelajaran yang lebih baik lagi ke depannya, tentu menjadi sebuah keharusan untuk lebih menerapkan kebijakan-kebijakn yang telah disusun dengan baik. Edi selaku dosen Fakultas Ilmu Pendidikan menambahkan, bahwa kebijakan perlu menjadi solusi dari hambatan tadi, serta menunjang peningkatan pemahaman dosen dan mahasiswa. “Solusinya ya penigkatan pemahaman dosen dan mahasiswa mengenai perkuliahan daring secara teoretik dan menunjang praktiknya.” Saran Edi.
Kesiapan Sistem dan Kurikulum Menghadapi Semester Depan
Memasuki tahun ajaran baru perkuliahan tentu menjadi tantangan harus dihadapi ke depannya. Ditambah kemungkinan kulaih daring yang diperpanjang dua bulan maka perlu adanya strategi yang dilakukan oleh semua pihak penyelenggara perkuliahan. Maka sudah menjadi keharusan kampus untuk memperbaiki system lalu menjadi lebih baik lagi. Mengenai kesiapan, Zaenuri menanggapi pihk kampus akan lebih siap lagi tentu dengan mendorong kualitas yang diberikan, terlebih juga masalah kurikulum. “Kurikulum tetap sama. Untuk 2020 nanti mulai kurikulumnya mulai melaksanakan kampus merdeka yang untuk mahasiswa baru. Kalau mahasiswa lama, kurikulum tetap.”
Perlu adanya korelasi dalam membentuk sistem dan kurikulum sebagai bentuk strategi pembelajaran sehingga nantinya. “Kurikulum harusnya menyesuaikan kondisi yang terjadi, jadi idealnya ada perubahan. Perubahan disesuaikan dengan karakteristik tiap mata kuliah, misal ada penyesuaian berkaitan dengan capaian pembelajaran, tingkat kelulusan, dan kedalaman materi, hingga pada proses belajar dan penilaiannya.” Ungkap Edi. Apalagi menanggapi kondisi masih pandemi covid-19, maka dirasa perlu disertakan terutama dalam menerapkan protokol kesehatan.
Untuk strategi perkuliahan sendiri setiap dosen memiliki gaya mengajarnya masing-masing. Tentu dengan menyiapkan alternatif bentuk penyampaian materi perkuliahan dan penugasan sangat dibutuhkan untuk setidaknya mengurangi keluhan mengenai pembelajaran yang susah dipahami. Semisal yang Septina Sulistyaningrum katakan, “Menyediakan materi untuk diunggah di Elena dan menyampaikan materi melalui Google meet atau Zoom meeting. Sehingga jika ada mahasiswa yang tidak bisa bergabung atau kendala internet masih bisa unduh materi.” Terlebih memang dosen harus bersabar dan toleran kepada mahasiswa yang konfirmasi terlambat mengirimkan tugasnya melebihi batas waktu pengumpulan.
Tak terlepas bagi mahasiswa sudah seharusnya untuk aktif mengikuti perkuliahan dengan mencari materi secara mandiri dan menyampaikan pemahaman yang dirasa kurang. Seperti yang dilakukan Lia PBSI,”Aktif mencari materi atau bahan perkuliahan sendiri.” Maka juga tak menutup kemungkinan untuk bersabar dan berdoa agar semoga segera diangkat pandemi covid-19 ini. “Upaya yang dilakukan salah satunya dengan bersabar dan berdoa.” Tambah Nadipa PTIK.
Komentar
Posting Komentar