Ospek: (Bukan Untuk) Melanggengkan Budaya Perploncoan dan Senioritas

Ilustrasi: Gallah Akbar Mahardika


 Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau biasa kita kenal dengan istilah ospek, rupanya sudah menjadi momok bagi mahasiswa baru di setiap kampus. Jika di awal pembelajaran sekolah perlu adanya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), maka untuk permulaan masuk kuliah akan familiar kita kenal dengan istilah ospek. Pelaksanaan yang terkesan formalitas belaka dengan penugasan bejibun itu sudah menjadi tradisi. Setidaknya untuk tahun ini, mahasiswa baru bisa terbebas dari kegiatan yang (barangkali) hanya memboroskan uang dan tenaga. 

Tak sedikit yang mengutarakan keresahan dari pelaksanaan kegiatan kampus satu ini. Terlebih banyak juga kasus pelanggaran hukum bermakna terselubung kerap terjadi. Perundungan, pelecehan, perploncoan sudah menjadi rahasia umum setiap mendengar kata ospek. Walau tak jarang juga yang mengaitkannya dengan sikap senioritas yang jijik dipamerkan di panggung mimbar akademik.

Perploncoan dan Senioritas dalam Antek-Antek Ospek

Sebenarnya jika ditilik dari tujuan utama diadakannya, ospek tak lebih dari sekadar pengenalan lingkungan akademis beserta mekanisme yang ada untuk menunjang kegiatan perkuliahan mahasiswa baru. Walau tampaknya tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, namun perlu dicermati dalam pelaksanaan kegiatan perlu dievaluasi.

Mungkin akan berbeda dengan tahun ini, tahun-tahun sebelumnya kerap kali terjadi hal yang cukup menjadi tradisi dari alur ospek itu sendiri. Masih bermanfaat jika pelaksanaan layaknya berkenalan dengan dosen, mengenalkan budaya dan iklim kampus, serta beragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Tapi akan berbeda makna jika diharuskannya mencatat ataupun meminta paraf dosen bahkan panitianya, seakan memang orang penting benar. Terkadang, formalitas semacam ini yang membikin rumit kegiatan. Padahal esensi yang sebenarnya disampaikan belum tentu penting.

Keanehan dilihat mulai dari pakaian dengan pernak-pernik yang tak biasa, mungkin bermaksud untuk mengekspresikan tema yang diusung atau pun lebih menertibkan. Terlebih mahasiswa baru diharuskan membawa penugasan berupa membeli ini-itu, seakan mirip endorse namun bedanya tidak dibayar. Esensi dari diadakannya hal ini pun menjadi pertanyaan.

Jika tidak membawa penugasan, maka hukuman menanti. Padahal layaknya hukum, hanya akan diterapkan saat memang melanggar peraturan yang tertera dalam praturan-peraturan yang tertulis. Sedangkan ospek sendiri tak ada landasan hukum yang melampirkan hal tersebut. Hal inilah yang kemudian memberi kesan mengada-ada aturan yang bahkan itu tak ada dirangkaian proposal kegiatan. Maka sebutan manipulasi pelaksanaan kegiatan menjadi bahasan yang panjang hanya karena untuk menutupi dengan formalitas di bawah lembar pertanggunggjawaban.

 Kita bisa ambil contoh lain, yakni diharuskannya model rambut yang seragam, walau tak banyak kampus menerapkannya tapi ini berkesan privasi bagi beberapa mahasiswa terlebih gaya rambut yang diminta tak biasa. Tak cuma itu, penugasan yang tak main-main banyak dan deadline-nya seakan menyiratkan begitu beratnya kuliah yang akan dihadapi. Kemudian tak jarang jika mahasiswa baru merasa tertekan dengan mental yang ditanamkan senior dan sudah beranggapan negatif terhadap kehidupan perkuliahan. Hal demikianlah yang kemudian memunculkan stigma bahwa kegiatan ospek berlebihan. 

Terakhir dari serangkaian acara itu, malam keakraban (makrab) rupanya menjadi simbol kehangatan. Alih-alih meminta maaf atas kelakuan selama kegiatan sebelumnya, senior malah menggunakan sistem, yakni memantik pemikiran kritis lewat cara kurang tepat—membentak contohnya. Mungkin baik maksudnya untuk menanamkan mental yang kokoh walau cara menyampaikannya sedikit frontal.

Mahasiswa (Senior) Bebas ‘Berkreasi’

Ungkapan yang sepertinya selalu menjadi motto para senior di kampus, terlebih memang karena penyelenggara dari kegiatan ini merupakan mahasiswa tingkat atas bukan birokrat. Maka jika terjadi suatu hal, seniorlah yang bertanggung jawab. Namun banyak disalahpahamkan oleh para senior sendiri, bahwa seringkali beranggapan ospek sebagai ajang balas dendam dari tahun ke tahun.

Persepsi bodoh semacam ini seakan memang tak salah jika ternyata beberapa mahasiswa senior itu tak lebih dari mental kekanakan. Padahal jika disederhanakan, posisi senior cukup sebagai fasilitator pengenalan lingkungan kampus. Bukan malah “berdiktator ria” memainkan wayang objek lakonnya, sehingga mahasiswa baru menjadi korbannya. 

Sedikit toleransi yang perlu dimaklumi ternyata tak lebih buruk jika melihat manfaat dari panggung senioritas. Bahwa setiap mahasiswa ditempa bermental baja. Setidaknya itu yang digaungkan mereka. Perkuliahan memang berat dan keras jika dibandingkan jenjang pendidikan sebelumnya, maka perlu sebagai mahasiswa untuk berkreasi dan berinovasi dalam berkegiatan di lingkungan akademisi ini. Terlepas dari itu mahasiswa senior maupun baru. Karena tak ada perbedaan jenjang mengenai merdeka dalam berkreasi.   

Korelasi ospek dan senior menjadi tonggak awal cara pikir mahasiswa baru mengenai kampus. Maka seluk beluk kegiatan penyambutan perlu disiasati agar tak salah kaprah. Bukan berarti hak memegang kegiatan secara penuh tak didapat. Hanya saja panitia mahasiswa senior lebih baik jika perannya sebagai pemantik opini-opini kritis mahasiswa terhadap kehidupan pasca kampus nantinya.  

Eksistensi senioritas pada akhirnya tak berkutat di penugasan, tanda tangan, makrab, dan hukuman yang berujung perploncoan saja. Terlepas dari pengenalan kampus yang lebih kompleks itu, semua pihak—birokrat, panitia, maupun mahasiswa baru, diharapkan dapat menjalin hubungan mutualisme sehingga stigma yang muncul lalu melahirkan alegori di persepsi mahasiswa baru.

Budaya lalu sekiranya ditautkan secara garis besar dapat dikatakan bahwa keresahan mahasiswa baru yang sering dihadapkan dengan ospek menjadi tanggung jawab atas ajang senioritas yang ditampilkan. Birokrasi kampus sudah sejatinya menjadi dewan pengawas bagi setiap kegiatan yang laksanakan itu menunjang keberlangsungan perkuliahan dengan baik. Sehingga perombakan layaknya sistem yang diusung kala pandemi seperti ini bisa jadi solusi. Tak perlu dengan pelaksanaan yang berbasis teknologi, namun pendekatan sosialisasi menjadi penting untuk tingkatan akademisi. Di tengah pandemi ini, ospek dilaksanakan secara virtual. Semoga saja bisa mengubah citra ospek, menjadikan ospek bukan untuk melanggengkan budaya perploncoan dan senioritas di kampus.


Komentar

Postingan Populer