PEMBELAJARAN LITERASI DI ERA DIGITALISASI VS PANDEMI


Ilustrasi : Galah Akbar Mahardika
Pandemi Novel Coronavirus (Covid-19) atau yang lebih dikenal dengan nama Coronavirus, tampaknya begitu berdampak di berbagai bidang, termasuk pembelajaran di perguruan tinggi. Lihat saja, beberapa kampus di Indonesia saja sudah banyak menerapkan perkuliahan berbasis daring untuk meminimalisasi penyebaran virus Corona. Bagaimana pun, kegiatan literasi dan pembelajaran harus tetap bertahan di era digitalisasi ini, meskipun ada kendala akibat kasus virus Corona.

.
Kebijakan Kampus dan Digitalisasi
Era digitalisasi mampu memberikan solusi di keadaan yang darurat seperti ini. Barangkali, pembelajaran di sekolah sudah tak zamannya menggunakan papan tulis berkapur, sekarang bahkan sudah tersajikan rapi dalam sebuah slide di layar papan presentasi. Hal itu, masih masuk akal jika masih ada interaksi antara pengajar dan pembelajar dengan suatu tatap muka. Namun, bagaimana jika interaksi semacam ini saja sudah tidak bisa?
.
Dengan kecanggihan teknologi dan digitalisasi mutakhir ini, ranah pendidikan pun terkena pengaruhnya. Segala model dan metode pembelajaran serba berbasis teknologi, daring, dan digital. Sekarang zamannya literasi dalam balutan digitalisasi. Sebuah pembelajaran dan  pertemuan tatap muka dalam menuntut ilmu sudah bisa dialihkan dengan sebuah sistem informasi terpadu daring--terlebih melihat kasus pandemi Covid-19 yang terjadi belakangan ini.
.
Tentu, bagi saya mungkin ini menyalahi esensi dari sebuah proses pembelajaran dan kegiatan literasi. Afdalnya tercapainya ilmu dari pengajar kepada pembelajar itu dengan tatap muka secara langsung, sebagai bagian dari adab menuntut ilmu. Tetapi, sekarang dengan tanpa tatap muka, alias menggunakan sistem kuliah daring.
.
Hal itu sudah terjadi di beberapa kampus. Misal saja di Universitas Negeri Semarang, beberapa program studi--terutama yang basicnya pendidikan, pasti akan menemui mata kuliah Literasi Digital dan Kemanusiaan (LDK). Rektor Unnes, Fathur Rokhman mengatakan bahwa di era digital ini, ada perubahan yang mendasar dalam masyarakat. Bahkan topik yang dipelajari diantaranya mahadata (big data), data mining, kecerdasan buatan (artificial intelligence), e-commerce, dan media sosial.
.
Bukan hanya mata kuliah Literasi Digital dan Kemanusiaan saja yang melalui daring. Sore kemarin, tanggal 15 Maret, Unnes mengumumkan surat edaran merespon kasus Covid-19. Surat edaran tersebut intinya berisi bahwa perkuliahan secara tatap muka untuk sementara waktu dari tanggal 16 Maret 2020 hingga 11 April 2020 diganti menjadi kuliah daring. Semua perkuliahan yang seharusnya tatap muka dan semua mata kuliah diganti dengan kuliah daring melalui e-learning (Elena). Kebijakan kampus ini berkaitan dengan digitalisasi, karena kuliah tatap muka diganti dengan kuliah daring. 
.
Dosen bisa dengan nyamannya menulis materi yang ingin disampaikan melalui sistem daring. Laiknya ia bicara di depan para mahasiswanya saat di ruang kelas. Seakan-akan menyapa puluhan netizen daringnya yang siap membaca, memahami, dan menjawab segala hal yang ditugaskan, tanpa adanya ruang untuk berkomentar atau bahkan berdiskusi secara tatap muka langsung. Sungguh, hal ini memudahkan para dosen dan mahasiswanya yang bahkan dapat dilakukan dalam keadaan rebahan sekalipun. 
.
Dilema Pembelajaran Daring
Alih-alih sebagai alternatif pembelajaran di tengah kisruhnya pandemi Covid-19 ini. Bagi beberapa mahasiswa akan menemui kedilemaan dengan adanya pembelajran literasi daring. Mereka yang tidak terbiasa memaknai  dan memahami materi perkuliahan lewat sekadar membaca—apalagi lewat gawai ataupun laptop pasti akan kesulitan dalam menyerap materi. Apalagi radiasi barang elektronik itu bisa saja cukup meresahkan beberapa penglihatan mahasiswa.
.
Beberapa mahasiswa mungkin nyaman-nyaman saja dengan adanya hal ini. Namun, perlu dicermati bahwa ada tiga cara orang dalam belajar yang paling mendasar, seperti; visual (fokus akan penglihatan), auditori (peka akan pendengaran), dan kinestetik (terangsang akan gerakan). Jika ditilik dari system pembelajaran literasi digital, maka ketiga cara belajar itu tak merata disampaikan. Contoh saja mahasiswa yang biasa belajar dengan kinestetik. Mereka akan lebih memahami materi dengan adanya rangsangan untuk bergerak, seperti misal jika di kelas mereka akan lebih memilih belajar dengan kelas praktik yang lebih dinamis, diskusi mencari sumber, dan lain sebagainya. Hal inilah yang belum ada di pembelajaran literasi di era digitalisasi. 
.
Memang akan terlihat lebih baik jika sistem ini dipertahankan. Setidaknya jika ketiga cara belajar mahasiswa itu dapat terakomodir dengan baik. Menu atau fitur di dalamnya pun harus memadai misalnya dengan adanya audiovisua, anak auditori akan lebih cepat memahami. Maka kembali lagi pada tujuan diadakannya sistem ini. Diskusi terbuka secara lansgung akan lebih memudahkan anak kinestetik. Tampilan yang menarik dengan warna-warna yang variatif dan atraktif akan memantik anak visual agar tidak cepat bosan. Semua semestinya ada dalam sistem belajar lewat daring ini. 
.
Bagaimana pun itu, pastinya bisa terlaksana walau saya pun berasumsi tidak akan semaksimal kenyataannya. Karena memang sehebat-hebatnya sistem daring dibuat, masih ada beberapa batasan yang tidak bisa dilakukan. Apalagi jika dalam satu waktu yang sama, server utama yang digunakan beribu mahasuswa maka--sudah kita ketahui bersama yang ada bahkan sebuah sistem terpadu yang eror atau server down. Harapannya, kampus harus bisa mengakomodasi fasilitas daring, tidak mudah eror atau server down saat situs daring diakses untuk pembelajaran literasi para mahasiswa.
----------------------------------------
Penulis : Alfian Fathan Mubina
Editor : Diky Mardiansyah

Komentar

Postingan Populer