Kontradiksi Kampus Konservasi Dewasa Kini - Editorial
Unnes salah satu kampus yang termasuk dalam sepuluh kampus berwawasan konservasi. Di tahun ke-56 hari jadinya 12 Maret lalu, Unnes juga memperingati sebelas tahun sebagai perguruan tinggi berwawasan konservasi. Selama sebelas tahun tersebut, dewasa kini konservasi di Unnes menjadi kontradiksi.
Pemahaman tentang pilar-pilar konservasi melalui mata kuliah umum, Pendidikan Konservasi ini memang telah memberikan. Selain itu, setiap mahasiswa wajib melakukan program penanaman pohon, atau biasa disebut Siomon. Yah, walau hanya untuk formalitas karena tidak ada tindak lanjutnya. Ditambah lagi Unnes masih memiliki program lainnya seperti Manajemen Bibit, H-bat, dan juga Greenmetric. H-bat (Hijau, Bersih, dan Sehat) untuk pertama kalinya diselenggarakan pada tahun 2019 berbasis daring. Mungkin mahasiswa Unnes sendiri tak banyak yang tahu karena publikasi dari UPT Konservasi sendiri patut dipertanyakan.
Kini
menjadi sorotan yakni pembangunan yang kian masif tentunya memiliki dampak
terhadap lingkungan. Arhdiatama Aji––Menteri Lingkungan Hidup BEM KM—pun
menyatakan untuk Unnes harus segera berbenah. UPT Konservasi seharusnya
diberikan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan nilai-nilai konservasinya.
Eksistensi
kampus konservasi terlebih di masa pandemi ini menjadi tanda tanya besar. Sudah
seharusnya proses melestarikan lingkungan ini dengan totalitas bukan sekadar
formalitas. Melalui edisi kali ini, Express mengajak Anda untuk kembali menilik
wajah baru (konservasi) Unnes. Selamat membaca.
Tautan untuk unduh PDF Express
https://linikampus.com/2021/05/05/buletin-express-edisi-7-tahun-2021/
Komentar
Posting Komentar