Lika-Liku Narkolema (Narkoba Lewat Mahasiswa)

 

Gudangnya para intelektual, kampus malah menjadi tempat narkoba bergerak senyap dan masif. Menggeliat dari tangan bandar besar hingga ke para kaki tangan yang berada di kampus. Beberapa yang tahu akan hal itu, justru memilih menutup mata alih-alih iming-iming sejumput uang yang menutup aksi sindikat (Kompas.com, 21 Agustus 2019). Tentu miris jika menilik kembali tujuan kampus ada, bukannya kawah candradimuka malah menjadi tempat penyuplai narkoba.

Di sisi lain, mungkin saja hal ini akan sangat membuai beberapa mahasiswa kos yang marginal dalam urusan finansial, terlebih yang lupa akan jatidiri yang sebenarnya. Jangan salah, bahkan kasus seperti ini dapat berimbas kepada mahasiswa berprestasi sekalipun. Oknum berinisial PHS pada kasus kampus di  Jakarta Timur misalnya, di samping IPK-nya yang lebih dari tiga, ternyata latar belakang keluarga yang berkecukupan masih saja membuatnya tidak bersyukur hingga terlibat di kasus ini.

Beberapa sindikat terjadi dengan alasan kampuslah “surga” narkoba. Hal ini seakan membenarkan perkataan Kabid Akademik dan Kemahasiswaan Lembaga layanan Pendidikan Wilayah III Jakarta, Imam Yuwono yang mengatakan kampus kerap disalahgunakan tempat peredaran narkoba lantaran dianggap aman dari pantauan aparat penegak hukum (Dikutip Tirto.id, 31 Juli 2019).  

Tak tanggung-tangung Kota pendidikan pun ikut tercemar—walau hanya sebagai lokasi persinggahan. Yogyakarta memang dikenal dengan taraf hidup murah dan berjibunnya perguruan tinggi maka sudah tak terelakan lagi bagaimana banyaknya pendatang dari luar. Termasuk dampak negatif bisa saja terjadi—tentu saja narkoba. SuaraMerdeka.com mencatat pada 2019 ada 174 pengguna narkoba berstatus mahasiswa di tangkap. Naik lebih dari dua kali lipat pada 2018 yang hanya 80 mahasiswa. Maka sungguh tak heran jika wilayah kampus menjadi pantauan polisi untuk mengantisipasi peredaran narkoba lewat mahasiswa.

Komentar

Postingan Populer