Senjakala Media Cetak, Post-Truth kah Solusinya?
Alih-alih memberitakan kejahatan, justru penyampaiannya malah masuk
kategori jahat. Bagaimana tidak, aksi penculikan anak saja diberitakan hoaks. Ramainya
isu penculikan di media sosial, justru setelah ditilik hasilnya nihil. Jember sempat
digegerkan dengan berita penculikan murid SDN Jember Lor 1. Padahal Aparat kepolisian
memastikan tidak ada kasus penculikan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Liputan6.com
mencatat perkataan Kasat Reserse Kriminal Polres Jember AKP Yadwivana Jumbo Qontason
saat konferensi pers, di Mapolres Jember, Jawa Timur, Rabu, 19 Februari 2020.
"Kami sudah melakukan klarifikasi dengan sejumlah pihak terkait dan yang
terjadi di SDN Jember Lor 1 bukan kasus penculikan, namun hanya salah paham
saja,"
Namun menjadi menarik saat membahas betapa kita membenarkan hal
tersebut. Terlebih jika investigasi tak dilakukan. Padahal itu hanya kebohongan
yang dibuat dan banyak diedarkan sehingga orang mempercayainya. Maka istilah
post-truth cukup mewakili. Kata 'pos' seakan mengatakan bahwa kebenaran pernah ada, seperti dikutip dari Kebohongan
Post-Truth-nya Firman Imadudin(Remotivi.or.id, 10/02/2020). Hal ini tentu
berimbas pada cara pers menentukan sarana dalam menyampaikan berita, yakni lewat
medianya--media daring. Proses jurnalistik
media cetak yang teruji kredibilitasnya dewasa kini telah tergantikan dengan kecenderungan
pola konsumsi post-truth dari media daring.
Komparasi antara media cetak dan media daring menjadi perdebatan.
Media daring yang kurang kredibel akan proses jurnalistiknya justru post-truth
malah memuluskan jalan sesatnya. Hal ini turut membuat aliansi media cetak turut
membuka platform di jejaring daring.
Mirisnya, pergeseran media semacam ini menghasilkan permasalahan baru,
contohnya saja berita eksklusif seorang wartawan yang tulisannya
"laris" disadur oleh media lain dengan tanpa menyebutkan sumbernya. Gila
sih ya.
Tulisan M. Ihsan Turin dalam remotivi.com, 07/02/2020 mengingatkan
kisah Jayson Blair saja misalnya, wartawan The New York Times yang akhirnya
mundur karena dugaan media Texas akan plagiasi yang dia lakukan ternyata benar.
Sadur-menyadur berita seakan menjadi alasan saat wartawan malas melakukan repostase
sendiri secara langsung. Tapi seakan tak sadar ilusi post-truth lah yang
kita lakukan. Maka tak salah jika akhirnya banyak berita hoaks bermunculan
karena memang tak adanya investigasi langsung dalam jurnalisme media. Pada
akhirnya timbul pertanyaan, setelah membaca ini pun akankah sebuah post-truth?
Komentar
Posting Komentar