Tolong Sampaikan

 

Usman Hamid beserta kawan memulai gerakan petisi daring melalui platform Change.org-nya pada 2012 lalu yang dilansir Kompas, Kamis 13 Februari 2020. Hal ini seakan menimbulkan stigma berbagai isu diubah dalam kesadaran bersama yang digalang di dunia maya.  Memang perubahan sekarang lebih dikaitkan dengan teknologi. Namun itu dihasilkan bukan semata-mata karenanya. Ulas balik masa reformasi merupakan bukti media dapat mengubah masyarakat yang notabene prioritas perubahan dapat terjadi.  Namun keduanya sekarang sudah bagaikan pinang dibelah dua, seperti sama saja perannya.

Mendukung dan saling melengkapi. Sehingga ungkapan Baca di mana saja, kapan saja, lewat perangkat apa saja pada National Geografhic edisi Desember 2015 cukup menggambarkan keduanya. Gambar pada sampulnya itu pun cukup mewakili arti media—sebagai sarana informasi. Kombinasi kopi, kamera, majalah, dan gawai—tentu memunculkan stereotip bahwa semuanya berhubungan.

 Tradisi menikmati kopi di pagi hari pun menjadi kebenaran bersama dalam menikmati bacaan media massa tertentu—surat kabar atau majalah.  Warna-warni Wong Karwai pada Tempo edisi 14-20 April 2008 telah berbicara bahwa kemampuan teknis dan tata artistik dari kamera gaya Wong Kawai bergerak dapat memainkan rasa dan imajinasi pada karyanya. Memang dahsyat media bervisualisasi dalam menyampaikan informasi.

Bicara media sosial tak lupa untuk juga membahas pengaplikasiannya pada gawai—hampir semua platform sosial media dapat diakses melalui gawai. Ini juga yang mengubah perilaku manusia. Dulu, menyampaikan kabar saudara ataupun teman melalui proses surat-menyurat, setelahnya beralih berbincang melalui short message service atau telpon berbayar, hingga kemudian chating dan voice call gratis di media sosial. Isinya bahkan dari hal khusus sampai yang sekadar remeh.

Teringat pengalaman pribadi saat memberi kabar teman jauh melalui chat dari Facebook, berubah Messenger, mencoba Whatsapp sampai beralih Direct Message Instagram. Lirik lagu tolong sampaikan pada dirinya pada akhirnya hanya kekhawatiran yang sudah menemui jodohnya. Media sosial sudah mendigitalisasi kebiasaan berkomunikasi. Begitulah. 

Komentar

Postingan Populer